MULAJADI NABOLON & KONSEP MITOLOGIS PENCIPTAAN DALAM BUDAYA BATAK TOBA

sdfsdf

MULAJADI NABOLON & KONSEP MITOLOGIS PENCIPTAAN

DALAM BUDAYA BATAK TOBA

Fr. Benny Manurung

Manusia paling primitif, yang sama sekali belum mengenal konsep Allah, sebenarnya sudah bersentuhan dengan realitas kelahian dalam hidupnya. Mereka mengalami apa yang disebut oleh Rudolf Otto: mysterium tremendum dan mysterium fascinosum (misteri yang menggentarkan sekaligus menyenangkan). Pengalaman itu adalah pengalaman eksistensial umat manusia: dialami sebagai hal yang natural/alami. Manusia hidup dalam bingkai ruang dan waktu. Ia terikat dan terbatas. Menyadari keterbatasannya, manusia bertanya-tanya dan heran karena adanya kekuatan lain yang melampaui dirinya. Kekuatan itu bersifat tak terbatas, adi kodrati, supernatural. Pengalaman inilah yang kemudian disebut oleh manusia sebagai pengalaman akan Allah.

Oleh karena itu, pengalaman manusia akan Allah bersifat universal, lintas budaya, lintas waktu, suku, dan generasi. Meski tidak se-‘definitif’ sekarang ini, manusia sejak awal mula keberadaannya sebenarnya sudah mengenal dan bersentuhan dengan realitas Allah (pengalaman bahwa ada Yang Tak Terbatas). Dalam hal ini, suku Batak juga sudah mempunyai gambaran akan keilahian itu. Keilahian itu memang masih dirumuskan secara primitif dalam bentuk konsep mitologis. Mitos adalah persiapan ke logos, maka sering disebut bahwa mitos adalah pralogos.

MULAJADI NABOLON BAGI ORANG BATAK TOBA: Asal-usul dan Arti Nama

Masyarakat Batak Toba menamai Allahnya (The High God) dengan Mulajadi Nabolon. Ada beberapa variasi nama yang dialamatkan kepada Allah Tinggi Orang Batak Toba tersebut, yakni Ompu Tuan Mulajadi Nabolon, Debata Mulajadi Nabolon, Mulajadi Nabolon, Ompu Silaon Nabolon, Tuan Bubi Nabolon, dan Raja Minangkabau. Dari beberapa variasi nama itu, nama Mulajadi Nabolon merupakan nama yang paling umum dan sering digunakan dalam literatur Batak Toba.

Arti Mulajadi Nabolon sendiri diartikan sebagai “Pemula Agung Genesis”. Mulajadi merupakan komposisi dari tiga kata: mula, jadi, dan bolon. Mula berarti awal atau permulaan; jadi berarti menjadi (dalam bentuk aktif intransitif, manjadi). Bolon berarti besar, agung. Nabolon adalah unsur gelar yang merupakan paduan dari 2 kata: na (yang) dan bolon (besar, agung). Karena merupakan unsur nama keduanya dipadukan. Ködding mengartikan Mulajadi Nabolon dengan “der groβe Anfang des Werdens oder der seinen Anfang in sich selbst hat.” Oleh Edwin M. Loeb diterjemahkan dengan “Pemula Agung segala yang ada atau ‘Dia yang memiliki awal dalam dirinya sendiri.’” Ph. L. Tobing, mengikuti Warneck, menyebutnya sebagai Sang Asal Kejadian (The Origin of Genesis). Sementara Mgr. Anicetus B. Sinaga,OFMCap menerjemahkannya dengan Sang Pemula Agung Genesis.

Dalam budaya Batak Toba sendiri, perlu dipahami perbedaan arti: mula dan bona. Memang, kedua-duanya menunjuk pada ide/paham permulaan. Bona (marbona) bisa dibandingkan dengan batang atau dasar dari sebuah pohon. Bona menyatakan asal-usul (origin) yang bentuk aktif transitifnya adalah ‘marbona.’ Kata ini tidak pernah dihubungkan dengan nama Allah Tinggi. Sementara, mula berarti awal. Memaknai nuansa kata ini, maka Mulajadi Nabolon diartikan sebagai ‘Pemula dari Genesis’. Dari analisis ini kita sampai pada kesimpulan: a. Ciptaan itu selalu mulai dengan waktu berlawanan dengan awal yang abadi dari Allah Tinggi, b. Allah Tinggi adalah Pemula tidak hanya sebagai “awal.” Dia dipahami sebagai penyebab kejadian yang dengan aktif memulai penciptaan; ‘Awal Agung Genesis’ menjadi ‘Pemula Agung Genesis.’

Orang Batak Toba memakai terminologi langit untuk menyebut surga. Diyakini bahwa surga terdiri dari tujuh lapis/tingkat (langit sipitu lampis). Mulajadi Nabolon tinggal di surga paling tinggi, pada langit ketujuh. Keyakinan ini tampak dalam kata-kata doa datu Orang Batak Toba: “Da Ompung Debata natolu, na tolu suhu na tolu harajaon sian langit na pitu tindi, sian ombun na pitu lampis, sahata saoloan Ho dohot Debata mulamula, Debata Mulajadi, na pande manuturi, na malo mangajari”.

MULAJADI NABOLON SEBAGAI ALLAH YANG MENGATASI WAKTU:
Mulajadi Nabolon sebagai Awal yang Abadi

Adong ma na saingan, na saingan ni na robi, na margoar Ompunta Tuan Bubi na Bolon i, I ma Debata na sasada i.” ‘Pada awal mula’ menunjukkan mula yang abadi, Mulajadi Nabolon. Tampubolon membuat rumusan yang menegasikan temporalitas Allah Tinggi: ‘Dia tidak mempunyai awal, datang dari yang tak berawal, yang tidak berawal dan berakhir.’ (Tampubolon, 1964:3).

Immoralitas Mulajadi Nabolon

Ungkapan Batak Toba menyebut Mulajadi Nabolon sebagai na so ra mate, na so ra matua (“Dia tidak mati atau tidak bertambah tua”). Pernyataan ini menegasikan pengalaman human manusia yang secara kodrati bertambah tua dan pada suatu saat akan mati. M. Loeb menyimpulkan bahwa Mulajadi Nabolon itu immortal (tidak dapat mati) dan Mahakuasa.

Kekekalan sebagai Bagian dari Transendensinya
Kekekalan Allah menjadi komponen transenden karena dua hal ini:
 Mulajadi Nabolon memiliki keberadaan, hidup aktual, dan sempurna dalam dirinya sendiri berbeda dari dan tak sama dengan ciptaan
 Penjadian ‘dunia fenomenal’ dapat diperkecil pada aktivitas penciptaan Allah Tinggi.

MULAJADI NABOLON DISAPA SEBAGAI OMPU(NG)

Kedua kata “Ompu” dan “Ompung” sebenarnya mempunyai arti yang identik. Kata “Ompung” biasa dipakai sebagai bentuk vokatif/sapaan. Dalam budaya Batak Toba, gelar “Ompu” menunjuk pada setiap orang dari generasi satu kakek atau mereka yang lebih tua. Sapaan akan gelar itu menandakan kuasa (power), kehormatan (dignity), dan kekudusan/mulia (holiness).
Warneck menyebut Allah Tinggi dengan Ompu Tuhan Mulajadi Nabolon. Sementara, W.A. Braasem menyebut Ompunta Debata Nabolon dan Ompunta Tuan Bubi Nabolon. Dalam konteks religius, Ompu ditujukan untuk hal yang dianggap kudus. Para dewa dan hal-hal supernatural termasuk Allah Tinggi disebut Ompung. Gelar Ompung adalah gelar terluhur dan tertinggi. Keluhuran dan kemuliaan Mulajadi Nabolon itu tampak dalam ungkapan: “Ho, ale Ompung, Mulajadi Nabolon, na hundul di tatuan, di ginjang ni ginjangan, di langit ni langitan.”

MITOLOGI PENCIPTAAN DALAM BUDAYA BATAK TOBA:
a. Kata ‘manompa’ & ‘manjadihon’ Eksklusif Ditujukan bagi Mulajadi Nabolon

Sudah dikatakan tadi bahwa nama Mulajadi Nabolon sendiri sudah menunjuk kepada hakikat Allah Tinggi sebagai pen-jadi, pencipta segala sesuatu. Bahasa yang dipakai dalam mitologi Batak Toba berkaitan dengan tema ini adalah: “Ditompa Debatama inanta Sorimala Matabun….” Teks lain berbunyi: “Ibana do manjadihon nasa na adong; jala ndang adong nanggo sada sian angka na adong i, na so marmula sian Ibana……boi do tarjadihonsa manang aha na naeng patupaonna holan marhite hatana sambing.” (Hoetagalung, 1926:6).
Fokus penciptaan di sini adalah kata “menjadikan.” Kata “menjadikan” di sini mengutarakan empat padanan kata “menyebabkan,” yakni: manjadihon (menjadikan), manompa (dalam arti menciptakan), manompa (dalam arti menempa), dan mambahen (membentuk). Ditegaskan bahwa kata manompa dan mambahen dapat dikenakan atau kepada manusia atau kepada Allah. Sementara manjadihon dan manompa eksklusif hanya dikenakan kepada tindakan Allah. Manjadihon dan manompa adalah dua kata yang merupakan padanan dari kata Latin creare (creatio).

b. Mitologi Penciptaan Bumi, Tumbuh-tumbuhan, Hewan, dan Manusia dalam Budaya Batak Toba

Mengenai penciptaan sendiri dalam Budaya Batak Toba beredar begitu banyak mitologi yang dikisahkan turun-temurun. Juga mengenai penciptaan manusia. Banyaknya legenda yang beredar (baik tertulis terlebih lisan) bisa dimengerti karena pemberitaan dongeng, legenda, dan cerita-cerita rakyat pada zaman dahulu dilakukan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Akibatnya beredar kisah yang hampir mirip di setiap cerita. Namun, di antara banyak cerita mitologi penciptaan yang paling terkenal adalah cerita yang disajikan oleh W.M.Hoetagaloeng dalam bukunya “Pustaha taringot tu Tarombo ni Bangso Batak.” Di dalam buku itu, diceritakan secara panjang lebar tentang pembuatan bumi, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia pertama, yang menjadi nenek moyang bangsa Batak.

c. Mulajadi Nabolon Menciptakan Anak-anaknya di Banua Ginjang – Terjadinya Bumi

Mulajadi Nabolon adalah ilah tidak bermula dan tidak berakhir. Semua yang ada berawal dari padanya. Ketika Mulajadi Nabolon menciptakan terang di langit ketujuh, dia juga menjadikan Manukmanuk Hulambujati. Suatu hari, Manukmanuk Hulambujati bertelur tiga butir. Namun, karena besar telurnya melebihi besar badannya, Manukmanuk Hulambujati memanggil Leangleang Mandi Untung-untung na bolon untuk menyampaikan kebingungannya kepada Mulajadi Nabolon. Mulajadi Nabolon mengatakan agar Manukmanuk Hulambujati tidak perlu kuatir karena Mulajadi Nabolon sendiri tahu akan apa yang diperbuatnya. Mulajadi Nabolon memerintahkan Manukmanuk Hulambujati mengerami telurnya dan memberi dua belas butir padi sebagai bahan makanan selama mengeram (satu butir/bulan) kepada Manukmanuk Hulambujati.

Dari telur pertama keluarlah: Batara Guru dan Raja Odap-odap, Si Debata Moelasongta, Si Debata Moelasongti, ima sipasongta-sipasongti parroahaon di saluhut siulaon di na tinompana i. Dari telur kedua lahirlah: Debata Sori, sori so haliapan na pitu hali malim, na pitu hali solam, sinolamhon ni ibotona si boru panolaman dan Tuan Dihurmajati (dewa halilintar dan petir). Dari telur ketiga: Balabulan (penguasa ilmu hitam dan putih) dan Raja Padoha yang bertanduk tujuh.

Mulajadi Nabolon memerintahkan Leangleang Mandi Untung-untung na bolon untuk membawa sepotong bambu dan menanamkannya di dekat Manukmanuk Hulambujat. Disertakan juga sebelas butir padi sebagai makanan Manukmanuk Hulambujati. Dari pohon bambu itu keluarlah tiga anak perempuan. Atas perintah Mulajadi Nabolon, ketiga orang perempuan dinikahkan dengan anak-anak Manukmanuk Hulambujati, masing-masing satu untuk Batara Guru, satu untuk sori so haliapan, satu orang untuk Bala bulan. Tiga anak yang lain harus menunggu sampai 3 saudara mereka kelak mempunyai anak perempuan. Beberapa tahun kemudian, Batara Guru memperoleh: 1 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Yang paling bungsu disebut Siboru Deak Parujar, Ibu segala yang hidup. Soripada memperoleh satu orang anak laki-laki dan satu orang perempuan (Nan Bauraja). Dan, Bala bulan memperoleh satu orang anak laki-laki dan satu orang perempuan (Narudang Ulubegu). Mulajadi Nabolon memerintahkan supaya Siboru Deak Parujar dinikahkan dengan Raja Odap-odap, Nan Bauraja dengan Dihurmajati, dan Narudang Ulubegu dengan Raja Padoha. Namun, Siboru Deak Parujar menolak untuk menikah. Melihat itu, sang dewata marah lalu melemparkan Siboru Deak Parujar ke banua tonga yang penuh dengan air. Melihat itu, Mulajadi Nabolon menjadi kasihan. Ia meminta Siboru Deak Parujar kembali ke banua ginjang tetapi ia tidak mau. Mulajadi Nabolon lalu mengirimkan tanah untuk diolah oleh Siboru Deak Parujar. Dari tanah itulah, Siboru Deak Parujar menciptakan bumi yang pertama. Namun, Naga Padoha Menghancurkan dunia pertama itu. Kembali Siboru Deak Parujar meminta seenggan tanah ke banua ginjang. Bukan hanya tanah, juga pedang dan tangkai pohon kehidupan, Hariara Tumburjati. Lalu, Siboru Deak Parujar menikam Naga Padoha dengan pedang itu. Naga Padoha tidak mati hanya dilemahkan. Sementara itu, Siboru Deak Parujar menimbuninya dengan tanah. Timbunan tanah yang dibuat Siboru Deak Parujar itu semakin besar dan tinggi. Naga Padoha tidak mati tetapi tetap hidup di bawah bumi. Dia tidak berdaya kecuali sekali-sekali mengetarkan bumi dan menggelorakan laut.

d. Terjadinya Tumbuh-tumbuhan, Hewan, dan Burung-burung

Mulajadi Nabolon mengutus Leangleang Mandi Untung-untung na bolon kepada Si Boru Deak Parujar untuk memberinya bibit dari segala jenis pohon dan tanaman yang ada di langit. Bibit itu dimasukkan ke dalam arung (sejenis gelagah). Menerima itu, Si Boru Deak Parujar segera membentangkan tikar dan meletakkan batang arung di atasnya. Bibit-bibit itu keluar dan berubah menjadi pasangan pohon, hewan, dan burung-burung.

e. Terjadinya Manusia Pertama

Mulajadi Nabolon masih mengharapkan Si Boru Deak Parujar kembali ke Banua Ginjang tetapi dia tetap tidak mau. Oleh karena itu, Mulajadi Nabolon memanggil dan mengutus Raja Odap-odap yang dulu ditunangkan dengan Si Boru Deak Parujar ke banua tonga. Akhirnya, Si Boru Deak Parujar dan Raja Odap-odap secara tidak sengaja bertemu di banua tonga. Si Boru Deak Parujar masih marah kepada Raja Odap-odap. Namun kata-kata Raja Odap-odap menghibur hati Si Boru Deak Parujar: “Naung Pardanbirbiran, hea do pardantaboan. Naung hinagigian gabe halomoan; ai apal tarjua rokkap.” (Apa yang dahulu dibenci, dapat saja menjadi sangat disenangi kemudian). Akhirnya, mereka jadi menikah. Si Boru Deak Parujar tak lama mengandung anaknya. Ia meminta Pagar Paralisian (jimat penolak bala pada masa hamil) kepada Mulajadi Nabolon. Ia akhirnya melahirkan anak kembar: satu laki-laki (Raja Ihatmanisia) dan satu orang perempuan (Boru Itammanisia). Para penghuni Banua Ginjang diundang untuk memestakan pesta suka cita itu. Mulajadi Nabolon, Dewa Sori, Dewa Balabulan, Dewa Asiasi, ayahnya Bataraguru dan saudara-saudaranya turun dengan seutas tali di Pusuk Buhit. Setelah pesta itu, mereka semua kembali ke Banua Ginjang termasuk Si Boru Deak Parujar dan Raja Odap-odap. Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia juga sempat ikut tetapi tali keburu putus setelah para penghuni Banua Ginjang itu tiba di banua ginjang. Debata Asiasi juga tertinggal karena kakinya pincang. Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia sebagai nenek moyang manusia pertama melanjutkan keturunan di banua tonga dan lahirlah: Raja Miok-miok, Raja Patundalnibegu, dan Raja Ajilampas-lampas.

Penutup: Perbandingan Paham Penciptaan Kristen dan Batak Toba

Kalau dibandingkan, paham penciptaan Kristen jelas tidak identik dengan mitologi penciptaan Batak Toba. Untuk itu pada bagian ini, baiklah secara sederhana ditelusuri perihal ‘persamaan’nya saja. Beberapa hal bisa disebut. Paham penciptaan Kristen mau menyatakan bahwa segala ciptaan terlebih manusia tergantung secara total (contingens) kepada Allah Pencipta (substingens, tak terbatas). Hal senada terbersit dari mitologi penciptaan Batak Toba. Hal itu tampak jelas dari berbagai ungkapan (umpama): marsigantung tu Debata do saluhutna; molo dihalomohon Debata boi do gabe poso naung matua; molo ditudi Debata, andor pe boi gabe sipanganon.

Sense of sacred terhadap Allah Tinggi adalah keyakinan yang cukup kuat baik di kalangan orang Kristen pun suku Batak Toba. Manusia tidak bisa sembarangan menyebut nama Tuhan. (Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat). Nama menyatakan identitas. Dalam rumusan doa-doa, harus dihaturkan kata-kata pilihan baik doa Kristen pun doa datu orang Batak.

Allah Orang Kristen memang berbeda dari ciptaan. Pencipta tidak identik dengan ciptaanNya. Meski demikian, Ia adalah Allah yang hidup, peduli, dan aktif tinggal bersama dengan umatNya. Ia bukan seperti tukang arloji, yang selesai membuatnya lalu meninggalkannya. Allah mencipta dunia khususnya manusia untuk memulai sejarah penyelamatanNya. Pencipta merupakan awal keselamatan justru karena Allah itu peduli. Bagi Orang Batak juga, Mulajadi Nabolon (Allah Tinggi) itu bukan sekedar prinsip melainkan seorang pribadi (Allah Personal) yang kerap dilukiskan secara antrofomorfistis. Ködding adalah orang pertama yang mengonsepsikan Mulajadi Nabolon sebagai Allah yang sungguh transendens (pure transendence). Ia membandingkan Mulajadi Nabolon dengan Brahmanisme dalam agama Hindu yang dipandang sebagai kekal. J. Warneck juga setuju dengan sifat transendensi Mulajadi Nabolon. Edwin van Loeb agak membingungkan, di satu pihak dia menyebut Mulajadi Nabolon sebagai Allah personal di pihak lain sebagai ‘an otiose deity’ (Allah Penganggur). P.L. Lumban Tobing, seorang antropolog Batak Toba adalah orang yang dengan tegas mengatakan bahwa Mulajadi Nabolon sungguh personal/imanen. Immanensi Mulajadi Nabolon tampak dalam: totalitasnya, kehadirannya, dan identitasnya. Membandingkan pendapat-pendapat yang beragam ini, Mgr. Anicetus B. Sinaga,OFMCap menyintesekan paham Mulajadi Nabolon dengan rumusan singkat-padat: “Allah-Tinggi Orang Batak Toba yang sekaligus transendens dan immanens.” (The Toba-Batak High God is Transendence and Immanence). Allah tetap dialami sebagai yang punya kuasa Mahakuat tetapi Ia juga dilihat immanen karena Ia adalah sumber hidup dan penghiburan untuk menangkal setan. Maka bagi orang Batak, mustahillah hidup tanpa relasi dengan Mulajadi Nabolon.
(dari berbagai sumber!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>