Khotbah Malam Natal

 

Merayakan kesederhanaan

P. Kornelus Sipayung

Saudara saudari yang terkasih, Malam ini kita merayakan hari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Kita merayakannya dengan penuh kegembiraan dan kebesaran. Untuk kegembiraan dan kebesaran Natal ini banyak waktu dan tenaga kita habiskan untuk mempersiapkan diri agar perayaan malam ini sungguh meriah, mengembirakan. Selain waktu dan tenaga juga banyak uang kita habiskan. Untuk sebagaian besar kita barangkali natal malam ini sudah menjadi perayaan natal yang kesekian, kendati Gereja katolik telah menetapkan bahwa kita merayakan Natal mulai tanggal 24 malam toh sudah banyak dari antara kita yang sudah merayakannya. Coba anda hitung sudah berapa banyak uang anda habiskan dalam rangka menyambut perayaan ini. Banyak di antara kita harus membeli baju baru. Dan barangkali tidak cukup satu pasang. Jika anak kita sekolah, maka akan ada permintaan guru untuk membeli baju Natal dengan warna dan bentuk yang sudah ditentukan. Natal di sekolah warna merah, natal sekolah minggu warna putih, natal di lingkungan warna putih, tapi panjang tangan. Demikian juga dengan celana, banyak yang membeli sepatu baru. Hitung sudah berapa kali kita harus bersalon atau membawa anak kita ke salon dan  berapa kali lagi. Hitung semua assessoris yang kita pakai, mulai dari menghias diri, rumah, gereja, jambur. Lain lagi biaya konsumsi, makan, snack. Biaya perjalanan, ongkos-ongkos. Maka tidak heran kalau hari raya natal tiba para ibu sudah menjadi pusing tujuh keliling memikirkan biaya untuk itu semua. Perusahaan jasa, took-toko, bank, menyediakan parcel natal. Pemerintah harus menganggarkan biaya natal yang demikian mahal. Tidak jarang juga biaya-biaya itu digelembungkan dan ditilap. Saya pernah diminta berkotbah dalam sebuah perayaan natal oekumene. Setelah selesai perayaan, seorang panitia bertanya kepada saya, jumlah honor kotbah yang ada dalam amplove. Dengan rasa enggan saya mengatakan, “aduh, untuk saya tidak penting jumlahnya” Tetapi bapak tersebut mendesak agar amplove saya buka dan menghitung uang yang ada di dalam. Setelah menghitung si bapak bergumam dan mengtakan: “tu lihat uang salam terimakasih untuk pastor juga ditilap” Dan ini terjadi pada perayaan natal.

Tidak hanya di tempat dan daerah kita ini saja. Di seluruh dunia bergema kemeriahan natal. Dikota-kota besar ada trend untuk membuat kembang api. Triliun uang habis dikonsumsi untuk membeli kembang api,. dan mercun.

Inikah perayaan natal? Barangkali kita semua akan setuju kalau natal bukanlah hura-hura dan pesta-pesta yang membuat kita menjadi konsumeris dengan menghabiskan banyak uang, energi, waktu, apalagi kesempatan untuk  melakukan hal-hal yang saya sebut diatas. Jika demikian apa itu natal. Natal sebenarnya adalah perayaan kelahiran pribadi yang rela meninggalkan kebesaran dan kemuliaan dan mau hidup dalam kesederhanaan. Inilah Yesus, Tuhan, yang datang ke dunia, meinggalkan kemuliaan dan pengosongan diri Allah, inkarnasi Allah, menjadi sama dengan manusia.

Injil hari ini secara sangat hati-hati menetapkan bunyi baik bagi gaya hidup personal dari Yesus maupun maksud kedatangan-Nya. Mari kita jangan jatuh kepada godaan romantisme yang mengitari. Gambaran di atas sungguh jauh dari apa yang dituliskan oleh Penginjil Lukas sebagaimana kita dengar pada malam ini. Ketika orang berpikir bahwa raja yang lahir itu berasa dari kalangan istana dan akan lahir di istana, maka Yesus lahir di kandang. Di Betlehem penuh dengan orang yang datang untuk melaksanakan perintah kaisar untuk sensus pendaftaran (ini untuk alasan pajak tentunya) tidak ada tempat menginap bagi Yusuf dan Maria. Akhirnya mereka menemukan kandang yang kosong, kotor dan tempat yang bau. Anak yang baru lahir ditempatkan pada palung, kotak tempat makanan domba, karena tidak ada satu keluarga pun yang menerima mereka untuk menginap di rumahnya.  Akibatnya banyak orang salah sangka dan akhirnya tidak pernah berjumpa bahkan tidak pernah mengakui bahwa Dia yang lahir di kandang hewan itu sungguh Mesias yang dinantikan. Tiga raja dari Timur pada awalnya menyangka bahwa raja yang akan lahir itu ada di istana, maka mereka mencarinya ke istana. Akhirnya melalui perubahan pikiran dengan tuntunan Roh dan malaikat mereka berjumpa dengan Yesus di kandang.

Orang-orang yang sungguh menyambut kelahirannya dan datang untuk mengunjungi raja yang baru lahir ini bukanlah pejabat pemerintahan, bukan para imam dan ahli Taurat yang ahli di bidang keagamaan, bukan pula yang mempunyai bisnis yang hebat. Orang pertama yang datang mengunjunginya adalah para gembala-gembala; status para gembala adalah tidak menentu, hidup tidak menentu, pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan merupakan kelompok yang termarginalisasi. Mereka ini dianggap sebagai orang luar, yang tidak masuk dalam kelompok sosial. Justru yang pertama mengunjungi Yesus adalah kelompok manusia yang terpinggir.

 Mengapa lahir dengan cara ini???Ketika orang menyangka bahwa Mesias  yang akan datang itu adalah raja yang berkuasa, punya pengaruh kuat dalam bidang politik dan ekonomi serta strategi yang ampuh, sehingga pergaulannya juga hanya dengan mereka yang berkecimpung dalam lingkaran bisnis dan politik, rupanya yang datang adalah  Dia yang bergaul dengan orang yang terpinggir, orang miskin yang tidak diperhatikan, orang sakit yang membutuhkan penyembuhan.

Ini adalah cara Lukas menempatkan status bagi hidup Yesus di masa yang akan datang. Lukas suka menekankan bahwa Yesus datang khususnya untuk mereka yang miskin dan mempunyai banyak kebutuhan, mereka yang lemah dan terpinggir.

Ketika orang mengharapkan Mesias yang datang adalah raja adil yang akan menghukum orang jahat dan mengganjari orang benar, rupanya raja yang datang itu bukan penghukum tetapi manusia yang penuh belas kasihan, murah hati dan pengampun. Kemudian dia akan dituduh makan dan minum bersama pendosa dan orang yang reputasinya jelek dan akhirnya dipinggirkan dan disamakan dengan para penjahat. Beberapa orang akan mengerti bahwa Yesus bergaul dengan orang miskin dan lemah, tetapi bergaul dengan orang yang reputasinya jelek di mata masyarakat sulit dimengerti oleh orang.

Sebenarnya, merayakan natal berarti mengenang Allah yang datang dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Dia mengosongkan diri, membuat dirinya miskin, melepaskan kekekalan dan kemuliaan, soilider dengan manusia berdosa. Allah menjadi manusia, Dia member diri demi keselamatan kita. Natal sebenarnya mengajari kita untuk hidup sederhana, mengajari kita untuk berani melepas apa yang kita miliki dan dibagikan kepada yang lain, mengajari kita untuk meninggalkan gengsi, kesombongan dan mengajari kita untuk bertindak rendah hati. Sungguh sangat kontras dengan kebiasaan yang terjadi di sekitar kita dimana natal menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk pamer, menunjukkan kebolehan dan apa yang mereka miliki. 

TAhun 1200an Fransikus dari Assisi,ketika orang merayakan natal dengan kegemerlapan yang mewah, meminta para saudaranya untuk mengimajinasikan tempat Yesus lahir dengan cara menyuruh mereka membuat kandang natal di tempat mereka merayakan natal. Maka para saudaranya membuat kandang. Fransiskus meminta mereka melihat apa saja yang ada di kandang itu. Ada hewan, jerami, tempat kotor yang aromanya bau… Dan di dalam kandan gitu ada bayi mungil Yesus yang adalah juruselamat. Ini terjadi di Greccio, italia. Peristiwa ini mengubah persepsi dan pikiran para saudaranya untuk memahami natal dan kelahiran Yesus. Kebiasaan membuat kandang natal menjadi tradisi di mana-mana. Sebenarnya Yesus bukan lahir di gua, tapi di kandang Betlehem. Kandang natal ini sebenarnya mengingatkan kita akan kesederhanaan Juruselamat yang lahir.

Saudara-saudari yang terkasih…Kandang natal jaman ini juga sudah menjadi amat mahal. Bagaimana kita bisa menghayati kesederhanaan dengan hiasan luks pada kandang natal kita? Sekali lagi kita diingatkan bahwa kita sedang merayakan kemiskinan dan kesederhanaan Allah yang datang meninggalkan kemuliaanNya. Tentu semua ini dilakukannNya demi keselamatan kita. Inilah yang kita rayakan dan hadirkan kembali dalam hidup kita.


Christmas Week Reflections

Frank Doyle SJ and P. Kornelius Sipayung


Readings:  Isaiah 9:1-6   Titus 2:11-14   Luke 2:1-14

Natal adalah pesta cahaya, kegembiraan dan pembebasan. Pada awalnya orang-orang Romawi merayakan sebuah pesta pada hari ini disebut sebagai Festum solis invicti, festival matahari yang tidak terkalahkan. Musim dingin sudah berlalu dan sekarang sedang datang hari yang panjang, dengan cahaya matahari akan lebih panjang… Seseorang dapat melihat alam berkembang setelah musim dingin yang membekukan. Pohon-pohon yang sebelumnya tampak mati karena daunnya berguguran dan tinggal ranting, kini mulai lagi bersemi dan menunjukkan tunas-tunas muda.


Joy everywhere….

Bacaan-bacaan bergaung  dengan tema cahaya dan bayi dalam palung adalah Cahaya Dunia. Cahaya mengitari gembala-gembala seraya dengan nyaring para malaikat melambungkan pujian mereka kepada Allah : “Kemuliaan kepada Allah di tempat yang Mahatinggi dan di bumi damai kepada semua orang yang berkenan kepada-Nya”


Keseluruhan atmosfer diliputi oleh kegembiraan, kegembiraan para malaikat, dan kegembiraan para gembala yang digambarkan dengan bergegasnya mereka ke Betlehem untuk menemukan anak yang baru lahir. Kegembiraan adalah tema yang amat kuat ditekankan oleh penginjil Lukas.

Alasan lain untuk bergembira  adalah pembebasan yang dibawa oleh Yesus. Hal ini ditunjukkan oleh cara  bagaimana dia datang. Dia adalah di atas segalanya Raja dari Raja, dan pangeran perdamaian. Di mana kemudian ada hiasan kemuliaan dan kekuatan? Di mana ada tempat, di mana ada orang istana, di mana pengawal yang terhormat? Dia datang tidak untuk menunjukkan kekuatan tetapi memberi kekuatan khususnya kepada yang miskin dan lemah.


Pengharapan mesianis bangsa Israel mendambakan kehadiran seorang Raja yang berkuasa, raja adil, raja pembebas. Nubuat para nabi menyalakan dan menguatkan pengharapan ini. Tentu saja pengertian adil, berkuasa dan pembebas ini bisa dimengerti dengan berbagai cara. Banyak orang Israel menantikan kehadiran Raja yang berkuasa dalam arti punya kekuatan yang luar bisa secara fisik, politik, ekonomi dan strategi memajukan bangsa.  Banyak orang yang berpikir adil sebagai tindakan menghukum orang yang bersalah dan memberi ganjaran bagi orang benar. Banyak orang mengerti istilah pembebas sebagai tindakan membebaskan diri penjajahan. Latar belakang pemikiran demikian sungguh kuat di kalangan bangsa Israel yang menantikan kedatangan Sang Mesias.

Injil hari ini secara sangat hati-hati menetapkan bunyi baik bagi gaya hidup personal dari Yesus maupun maksud kedatangan-Nya. Mari kita jangan jatuh kepada godaan romantisme yang mengitari. Gambaran di atas sungguh jauh dari apa yang dituliskan oleh Penginjil Lukas sebagaimana kita dengar pada malam ini. Ketika orang berpikir bahwa raja yang lahir itu berasa dari kalangan istana dan akan lahir di istana, maka Yesus lahir di kandang. Di Betlehem penuh dengan orang yang datang untuk melaksanakan perintah kaisar untuk sensus pendaftaran (ini untuk alasan pajak tentunya) tidak ada tempat menginap bagi Yusuf dan Maria. Akhirnya mereka menemukan kandang yang kosong, kotor dan tempat yang bau. Anak yang baru lahir ditempatkan pada palung, kotak tempat makanan domba, karena tidak ada satu keluarga pun yang menerima mereka untuk menginap di rumahnya.  Akibatnya banyak orang salah sangka dan akhirnya tidak pernah berjumpa bahkan tidak pernah mengakui bahwa Dia yang lahir di kandang hewan itu sungguh Mesias yang dinantikan. Tiga raja dari Timur pada awalnya menyangka bahwa raja yang akan lahir itu ada di istana, maka mereka mencarinya ke istana. Akhirnya melalui perubahan pikiran dengan tuntunan Roh dan malaikat mereka berjumpa dengan Yesus di kandang.


Orang-orang yang sungguh menyambut kelahirannya dan pergi datang untuk mengunjungi raja yang baru lahir ini bukanlah pejabat pemerintahan, bukan para imam dan ahli Taurat yang ahli di bidang keagamaan, bukan pula yang mempunyai bisnis yang hebat. Orang pertama yang datang mengunjunginya adalah para gembala-gembala; status para gembala adalah tidak menentu, hidup tidak menentu, pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan merupakan kelompok yang termarginalisasi. Mereka ini dianggap sebagai orang luar, yang tidak masuk dalam kelompok sosial. Justru yang pertama mengunjungi Yesus adalah kelompok manusia yang terpinggir.

Mengapa lahir dengan cara ini???Ketika orang menyangka bahwa Mesias  yang akan datang itu adalah raja yang berkuasa, punya pengaruh kuat dalam bidang politik dan ekonomi serta strategi yang ampuh, sehingga pergaulannya juga hanya dengan mereka yang berkecimpung dalam lingkaran bisnis dan politik, rupanya yang datang adalah  Dia yang bergaul dengan orang yang terpinggir, orang miskin yang tidak diperhatikan, orang sakit yang membutuhkan penyembuhan.

Ini adalah cara Lukas menempatkan status bagi hidup Yesus di masa yang akan datang. Lukas suka menekankan bahwa Yesus datang khususnya untuk mereka yang miskin dan mempunyai banyak kebutuhan, mereka yang lemah dan terpinggir.

Ketika orang mengharapkan Mesias yang datang adalah raja adil yang akan menghukum orang jahat dan mengganjari orang benar, rupanya raja yang datang itu bukan penghukum tetapi manusia yang penuh belas kasihan, murah hati dan pengampun. Kemudian dia akan dituduh makan dan minum bersama pendosa dan orang yang reputasinya jelek dan akhirnya dipinggirkan dan disamakan dengan para penjahat. Beberapa orang akan mengerti bahwa Yesus bergaul dengan orang miskin dan lemah, tetapi bergaul dengan orang yang reputasinya jelek di mata masyarakat sulit dimengerti oleh orang.

 

Jaman ini juga orang sering salah sangka. Orang sering mengira bahwa Natal itu adalah makan dan minum, hiburan berupa tari-tarian, sandiwara natal, lagu-lagu dengan mengundang bintang tamu, hiasan yang  megah, kado natal, dekorasi, pakaian baru.  Saya pernah menghadiri rapat Panitia Natal.  Begitu antusias para panitia untuk menyelenggarakan sebuah pesta yang meriah. Pembicaraan hanya sekitar seksi konsumsi, seksi hiburan, seksi tamu, seksi dekorasi, yang menghabiskan puluhan juga uang… Di tengah pembicaraan hangat ini saya memberi pendapat yang melawan arus. Setelah dana terkumpul…bagaimana kalau kita sumbangkan saja ke panti asuhan dan ke tempat rehabilitasi orang cacat sebagai tanda kepedulian kita kepada hidup mereka. Semua dengan kor yang nyaring menjawab “wah…nggak enak…pergilah sendiri ke sana”.  Di salah satu  kota daerah Milan saya pernah diundang untuk merayakan natal muda….

 

Raja yang kita harapkan adalah raja yang membebaskan. Banyak orang berpikir bahwa Dia adalah pembebas dari penjajahan, tekanan ekonomi, tekanan politik. Raja yang datang memang sungguh pembebas, tapi Dia ingin membebaskan manusia dari akar yang paling dalam, penyebab yang paling dalam dari kemiskinan dan kekerasan Mesias ini dengan seluruh hidupnya ingin membebaskan manusia dari egoisme, kepentingan diri, ketidakpedulian terhadap yang lemah. Inilah akar dari semua kemiskinan dan penindasan.

Mengapa Yesus menggabungkan diri dengan mereka yang reputasinya jelek?

 

Tetapi sebagaimana telah ditunjuk, bahwa Yesus mencintai orang miskin bukan karena mereka itu baik, tetapi karena mereka miskin. Dan kemiskinan material bukanlah jenis kemiskinan satu-satunya. Banyak juga kemiskinan dalam bidang moral, emosional, hati dingin, sosial psikologi.


Jika Yesus datang hari ini, bagaimana Dia datang? Seorang teolog mengatakan demikian: “jika Yesus datang kepada murid-murid-Nya hari ini dalam rupa apakah dia akan datang untuk membawa kasih dan keselamatan yang datang dari Allah??


Dalam rupa apakah dia datang etika orang muda meninggal karena AIDS, ketika jutaan manusia tanpa pekerjaan yang mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran, dan kepantasan sosial, ketika anak-anak yang tidak berdaya dibunuh oleh orang tuanya sendiri dengan bentuk pengguguran, ketika orang dewasa menjadikan anak muda belai menjadi budak seks, jadi korban pelecehan seksual, ketika para perempuan dibuat menjadi nomor dua dengan jalan memperjualbelikan, ketika terjadi pembantaian etnis di berbagai belahan dunia seperti Afrika, Eropa, Asia, ketika, hutan, daerah tanah dirusaki? Dalam rupa apakah dia datang ketika

Di mana Yesus sang Juruselamat kita hari ini? Yesus adalah penyelamat kita, ketika kita yang diberkati dengan kebaikan bumi, materi yang baik, sosial dan intelektual bekerja secara bersama memperbaiki masyarakat kita untuk semakin utuh dan pantas.


Thomas Merton, seorang petapa dan penulis, mengekspresikan itu dengan cara ini: “Ke dalam dunia ini, tempat penginapan yang gila, yang secara absolut tidak ada ruang untuk-Nya, Kristus datang tanpa diundang. Tetapi karena Dia tidak dapat berada dalam itu, karena dia adalah di luar spasi dari ruangan itu, maka tempatnya adalah dengan mereka yang tidak mempunyai tempat”

 

Beberapa tahun yang lalu Paulo Friere, seorang Brazil, menulis bukunya yang terkenal Pedagogy of the Oppressed. Bukunya berisi tentang anjuran untuk mengentaskan mereka yang miskin pengetahuan terutama mereka yang buta huruf. Mengapa mereka miskin dan bagaimana mengatasi kemiskinan mereka dan solusi untuk mengatasi kemiskinan itu ada  pada tangan mereka.

Seluruh proses didasarkan pada mempelajari khabar gembira Injil dan melihat relevansinya dengan hidup mereka. Proses dilihat sebagai penyadaran, membuat mereka yang miskin dan terpinggir sadar akan situasi mereka yang terhimpit, sadar akan hak-hak, keadilan…

 

Anak yang baru lahir adalah pangeran perdamaian tetapi secara paradoksal warta-Nya tentang cinta dan keadilan bagi semua adalah sumber kekerasan dan kematian pada bagian mereka yang menolaknya. Gaung dari itu telah hadir dalam ceritra Natal.


Natal bukanlah hanya untuk malam ini saja, tetapi untuk seluruh tahun. Bukan hanya sekedar pesta, gembira, kebersamaan, perayaan, makan dan minum… Natal adalah perayaan datangnya Tuhan di antara orang miskin dan gelandangan, dan yang dirugikan, dengan sebuah berita harapan dan kebebasan bagi yang dirugikan di dunia ini. Maka natal bukan hanya perayaan tetapi juga tanggung jawab kita untuk ambil bagian dalam proses pembebasan itu. Untuk itu kita diminta untuk bekerja untuk menghapus noda kemiskinan yang memalukan, diskriminasi dan eksploitasi,



Mari kita bergembira atas hari natal yang kita rayakan tetapi jangan lupa akan apa persisnya yang kita rayakan. Biarlah itu semua merupakan rangsangan yang mengingatkan kita tentang makna natal bagi kita dan bagi masyarakat sekitar kita.


Christmas Week Reflections

Frank Doyle SJ and P. Kornelius Sipayung


CHRISTMAS MASS, DAYTIME (A, B, C)

 

Tadi malam kita merayakan kelahiran Tuhan kita Yesus kristus. Dia lahir dalam kesederhanaan, di kandang hewan  di kota Betlehem. Sebenarnya Dia ingin lahir, dan melalui orang tuanya mengetuk banyak rumah dikota betlehem. Tetapi semua penduduk Betlehem tiada satupun yang menerimaNya. Mereka tidak emnerima Yesus karena berbagai macam kepentingan. Penduduk Betlehem menolak Yesus dalam kandungan Maria. Inilah alasan mengapa Dia harus lahir di kandang.

Para malaikat mewartakan kelahiran ini bukan kepada penguasa politik seperti raja, bukan kepada pemimpin agama, bukan kepada para ahli kitab suci. Teapi Malaikat mewartakan ini  kepada para gembala. Para gembala adalah mereka yang tidak mempunyai tempat menetap, tidak banyak kepentingan, tidak banyak kritik, tetapi gampang digerakkan, karena mampunyai hati yang terbuka. Mari kita lihat keterbukaan hati mereka. Kaa-kata warta bala surge: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat dikota Daud Betlehem. Ini satu berita sukacita. Tetapi tanda yang diberikan oleh bala surge itu sungguh tidak menarik. Inlah tandanya: “Kamu akan menemui bayi berbaring di palungan di dalam kandang” Satu berita yang menarik dengan bukti yang kurang meyakinkan. Kendati demikian mereka, para gembala, pergi juga ke sana, karena yang menyampaikan berita itu adalah malaikat dari surga. Keterbukaan hati mereka membuat mereka berjumpa dengan Yesus.

Bacaan-bacaan hari ini mau mengetengahkan kepada kita siapa sebenarnya Yesus yang lahir ini. Penginjil Yohanes mengatakan bahwa Dia yang lahir di kandang itu adalah Putera Allah. Dialah Allah yang menjadi manusia.

 

Penginjil Yohanes memulai Injilnya dengan “pada mulanya”. Matius dalam memberi silsilah Yesus bergerak sampai ke Abraham, Bapak umat Allah. Silsilah Yesus dari Lukas bergerak kembali ke Adam dengan demikian merangkul seluruh manusia. Silsilah penginjil sinoptik mau mengatakan kepada bahwa pertama, Yesus yang lahir itu sungguh real, nyata, sungguh manusia sama dengan kita; kita semua adalah saudara dan saudari dalam Yesus. Penginjil Yohanes bukan hanya merunut silsilah sampai pada Abraham dan Adam, dia lewat permenungan yang mendalam sampai kepada awal dari segalanya yakni Allah sendiri. “pada mulanya”  bergema  pada kata pertama kitab kejadian tetapi Yohanes berbicara tentang sebuah peristiwa permulaan yang lebih awal, awal permulaan yang tidak mempunyai awal tetapi yang berasal dari kekekalan Allah sendiri. Pada mulanya adalah Sabda, Menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

 

The Word

Dari dahulu hingga sekarang Allah senantiasa mengomunikasikan diri kepada manusia. Allah mengomunikasikan diri lewat alam semesta, lewat ciptaan, lewat peristiwa hidup. Kemudian allah mengomunikasikan diri lewat pribadi manusia, seperti para tokoh karismatis, para raja, para nabi. Dan pada akhirnya Allah mengomunikasikan diri lewat Putra Tunggal-Nya. Yesus Kristus itu adalah komunikasi siri Allah. Sabda menjadi daging… Kita menggunakan kata untuk berkomunikasi. Dan ada banyak ragam jenis kata: superfisial, mendalam, konstruktif, destruktif, faktual, emosional, lucu, sedih, menguatkan, melemahkan cinta, pelecehan dan lain-lain. Kata dan sabda Allah adalah spesial. Kata Allah berdaya mencipta. Sabda Allah bukan hanya sekedar mengomunikasikan  ide dan gagasan. Sabda itu aktif, membawa hal kepada keberadaan. Segala sesuatu yang ada keluar dari Sabda Allah yang berdaya mencipta. Dan dalam cara yang khusus sabda membuat orang berada; sabda membuat hidup.

 

Sabda yang nyata juga mengomunikasikan siapa itu pemberinya. Komunikasi bukan hanya datang dari mulut tetapi juga dari seluruh tubuh. Saya bisa mengomunikasikan apa yang tersimpan dalam diri saya yang terdalam lewat seluruh tubuhku. Tubuhku dari ladang ekspresif dari hal yang tersembunyi dalam diriku.  Kita bias berkomunikasi lebih efektif lewat bahasa diam…lewat ekspresi wajah, sikap senyum, dll.

 

A revealing Word

Sadba Allah juga mewahyukan, mempresentasikan, menghadirkan sesuatu tentang diri Allah.  Kita dapat melihat itu pertama-tama dalam dunia sekitar kita, yang Dia ciptakan. “The world is charged with the grandeur of God,” (Seluruh dunia diliputi dengan kebesaran Allah) “Bulan dan bintang karya jari-Mu. Langit meninggalkan jejak Alah” sebagaimana dikatakan mazmur. Kita hidup dan bernafas dalam atmosfer ilahi kata Teilhard de Chardin. Tetapi hari ini kita merayakan Sabda Allah yang masuk secara total ke dalam dunia kita dalam cara yang sungguh khusus dan  menjadi sama seperti kita. Dia tidak hanya menjadi manusia sama seperti kita, Dia menjadi daging. Dia masuk dalam pengalaman natura kita yang rendah, ikut ambil bagian dalam kegembiraan dan ketakutan serta kecemasan kita, kelemahan dan ketidakpantasan kita “Tuhanku ya Tuhan-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku”

 

Sabda yang dapat dilihat dan dimengerti


Tetapi dalam menjelma menjadi daging, mengambil rupa sebagai manusia, menjadi daging, Sabda menjadi dapat dilihat, dan dimengerti oleh pikiran manusia yang terbatas. Dengan membatasi diri Allah bisa kita serap dan pikirkan. Allah yang tidak terbatas hanya mungkin diserap dan dimengerti oleh manusia yang terbatas. Jika Allah membatasi diri, membuat dirinya terbatas, membuat diri-Nya menjadi manusia. Dalam Yesus,  Sabda menjadi jembatan yang dapat menghubungkan, yang membuat terkoneksi antara pikiran kita yang terbatas dengan Allah yang adalah misteri dan tak terbatas.

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. (Yoh 1, 1-4)

Life and Light

Saudara dan saudari yang terkasih, Dua tema besar dalam Injil Yohanes adalah bahwa Sabda Allah dalam Yesus memberikan Hidup dan Terang. Kemudian, dia akan mengatakan: “Saya adalah kebangkitan dan Hidup. Dia membawa hidup dalam seluruh kepenuhannya. Tidak hanya hidup biologis tetapi seluruh dimensi kehidupan, hal ini persis seperti dikatakan psikoterapi Carl Rogers “fungsi penuh dari pribadi” Sebagaimana sering dikatakan bahwa kebanyakan dari kita hanya menggunakan atau hanya mampu mengaktualkan 10 %  dari potensi yang kita miliki. Sebagaimana Antony de Mello mengatakan banyak waktu kita hanya hidup setengah saja atau kadang keutamaan kita mati.

Sekali lagi Yesus mengatakan “saya adalah Cahaya dunia” tema pertentangan antara Cahaya dan kegelapan sungguh menonjol dalam Injil Yohanes. Yesus membawa Cahaya dalam kegelapan situasi manusia. Dia adalah Jalan; Truth-Integrity-Wholeness dan Dia adalah Hidup, hidup dalam kelimpahan, dalam semua kepenuhannya. Dia memberi visi bagi kita membuat jalan kita di dunia daging.

 

The world

Dan sekarang, sebagaimana dua ribu tahun lalu di Betlehem, Dia masih berada di dunia, di berbagai belahan dunia Dia tidak dikenal, di mana ada kekerasan, amarah, permusuhan dan di atas segalanya ketakutan. Sambil berkubang dalam kegelapan banyak orang yang tidak dapat melihatnya, banyak orang tidak menyediakan waktu untuk membagikan visinya. Dia datang kepada umat-Nya tetapi umat-Nya tidak menerimanya. Dia yang berada sejak semula dalam kekekalan, kini menjadikan diri-Nya terbatas agar manusia yang terbatas ini sanggup melihat kemuliaan-Nya. Tetapi apa yang terjadi? Banyak manusia tidak mempunyai kecakapan spiritual untuk melihat peristiwa ini. Orang yang percaya adalah mereka yang mempunyai kecakapan spiritual untuk melihat kehadiran Allah dalam peristiwa, dalam alam semesta dan terutama dalam diri Yesus yang menjelma menjadi manusia. Bagaimana dengan saya????? 

 

Those who belong to him

Hanya mereka yang sungguh percaya kemudian juga akan mau berserah kepada-Nya. Mereka yang sungguh percaya, mereka yang telah berserah dengannya dengan penyerahan yang dalam menjadi anak Allah. Dan sebagai anak yang benar, mereka berkembang lebih dan lebih sesuai dengan kehendak Allah. Menjadi anak Allah adalah identifikasi total dengan misi Sabda Allah.

 

“And the Word became flesh….. and lived among us.”

Sabda Allah, dalam Yesus, masuk secara total ke dalam kondisi manusia yang berdosa. Untuk ini kemudian orang Farisi mengatakan bahwa “Dia bergaul dan makan bersama orang berdosa” Orang Farisi adalah mereka yang sebenarnya tidak mempunyai kecakapan spiritual untuk melihat dan menerima kehadiran yang ilahi dalam diri Yesus Kristus. “mereka hanya melihat Yesus itu sebagai manusia biasa saja. Karena itu mereka mengatakan: “bukankah Dia ini anak Maria, Yusuf dan saudara serta saudarinya ada di antara kita???”

 

Merayakan Natal berarti menerima Yesus yang lahir itu sebagai Putra Allah, Allah yang menjadi manusia. Allah yang pada jaman dahulu bersabda lewat alam semesta, lewat peristiwa dan lewat pribadi pilihan kini bersabda lewat Anak-Nya sendiri yakni Yesus Kristus. Kini Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita.

Allah menyatakan diri-Nya bukan lewat hal luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Dia datang dengan cara dan gaya manusia.  Dari pihak manusia perlu kepekaan dan keutamaan spiritual untuk menangkap pesan ilahi. Allah tidak pernah berhenti mengomunikasikan diri kepada manusia. Jaman ini juga Dia tetap mengomunikasikan diri kepada kita lewat peristiwa hidup kita, lewat kejadian, lewat alam semesta dan terutama lewat pribadi manusia lain yang sungguh mengharapkan perhatian kita.

Shacsepare seorang filsuf dan sastrawan pernah menggambarkan kedatangan yesus ke dunia sebagai seorang pangeran yang menjadikan dirinya rakyat biasa. Pada jaman dahulu ada seorang Pangeran yang tinggal di Istana dengan hidup tidak berkekurangan. Dia hidup dalam kelimpahan. Istananya serba lengkap, segala-galanya terpenuhi. Tetapi si pangeran tidak puas dengan hidup melimpah, dia ingin berbagi dengan yang lain termasuk dengan rakyatnya di pedesaan. Tetapi sekat-sekat istana membatasi dirinya untuk dapat berkomunikasi dengan rakyat yang dicintainya. Maka dia menanggalkan atribut kepangeranannya dan mulai memakai pakaian dan perlengkapan manusia bisa. Dia lepaskan mahkota dan memakai topi petani, melepaskan tongkat kerayaan dan mulai memegang cangkul, melepaskan mantel kebesaran dan memakai kain sarung biasa. Kemudian dia meninggalkan kerjaan dan mulai mengembara ke desa-desa untuk berjumpa dengan rakyatnya yang biasa. Hanya dengan cara demikian dia bisa berjumpa secara langsung dengan rakyat dan mengenal serta dikenal oleh rakyatnya. Pangeran harus merendahkan diri, meninggalkan kebesaran dan kemuliaan untuk dapat berjumpa dengan rakyat. Demikian jugalah Putra Allah mengosongkan diri, merendahkan diri, menjadikan dirinya sama seperti manusia bisa agar manusia yang terbatas sanggup melihat dan mengenalnya.




Sunday Scripture Reflections


Frank Doyle SJ and P. Kornelius Sipayung


THE HOLY FAMILY Genesis 15:1-6;17:3b-5,15-16;21:1-7   Hebrews 11:8,11-12,17-19   Luke 2:22-40

Sudah menjadi kebiasaan orang katolik merayakan pesta Keluarga Kudus pada hari Minggu segera setelah  perayaan hari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Kesempatan memestakan Keluarga Kudus juga menjadi kesempatan bagi kita untuk becermin pada Kudus Nazaret. Selain ini dan yang paling penting bahwa Perayaan pesta Keluarga Kudus ini menjadi kesempatan yang tepat untuk merefleksikan kualitas dari keluarga kita sendiri dalam cahaya Gereja sebagai “Keluarga Utama”.

 

Untuk waktu yang lama Yesus adalah bagian dari satu keluarga, Dia tinggal dalam keluarga, diasuh dalam keluarga kecil Nazaret, tergantung dari keluarga, mendapat pendidikan dalam keluarga, merasakan suka-duka dalam keluarga. Kita sering

mengimajinasikan bahwa keluarga ini seharusnya telah menjadi sebuah keluarga yang cukup bahagia. Kendati demikian, sebagaimana pada umumnya keluarga-keluarga, Keluarga  Kudus Nazareth juga harus dari waktu ke waktu juga jatuh bangun, ada masa bahagia, masa sulit, ada masalah dan suka serta duka. Barangkali juga ada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada kalanya anggota keluarga sakit, cemas, takut, harus mengungsi, mengadakan perjalanan jauh, …

Selama masa hidup publik Yesus, Peranan Maria nampak sangat dominan di berbagai peristiwa hidup Yesus dan Maria turut menyaksikan sengsara, jalan salib bahkan kematian Yesus pada salib. Tetapi kita tidak ketahui kemudian tentang Yusuf. Adakah dia sudah meninggal segera setelah Yesus tampil di hadapan umum? Hal ini tidak terlalu menjadi minat para penulis Kitab Suci.

 

Leaving the family


Setelah Yesus berumur 30 tahun, Dia meninggalkan keluarganya untuk sebuah karya yang diberikan oleh Bapanya kepada-Nya untuk dilaksanakan. Dia mengemban misi melaksanakan karya keselamatan Allah di dunia.  Kita mengingat ketika Yesus berumur 12 tahun, bagaimana Maria dan Yusuf amat cemas ketika Dia tidak ikut serta dalam rombongan kembali ke Nazaret dan diceritakan bahwa Maria dan Yusuf tidak menemukannya dalam tiga hari. Ketika ditemukan dalam bait Allah dan berdiskusi dengan para tua-tua orang Yahudi, Dia mengatakan bahwa Dia harus tinggal di rumah Bapa-Nya. Dari waktu itu Dia menjadi bagian dari keluarga yang baru, keluarga dunia dan keluarga mereka yang komit mengikuti jalannya.  Ketika Dia sedang mengajar, diceritakan dalam Injil bahwa ibunya, saudara dan saudarinya mencari Dia, Yesus mengatakan bahwa ibunya, saudara dan saudarinya adalah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya. Ibunya, saudara-Nya dan saudari-Nya mulai saat itu akan menjadi murid-Nya karena murid-Nya adalah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan tekun melaksanakannya. Mereka tentunya akan, juga termasuk Maria ibu-Nya, yang tidak lebih baik dalam hal mendengar dan melaksanakan Sabda Allah dari Maria. 

Banyak orang kemudian meninggalkan lingkungan keluarganya. Ketika/kendati keluarga seharusnya menjadi prioritas utama dalam keprihatinan kita, hal itu tidaklah sebuah prioritas absolut. Semua kita, dan secara khusus orang Kristen, dipanggil mengikuti teladan Yesus dan menyekutukan diri kita dengan keluarga dunia. Karena, dengan satu Bapa, kita semua saudara dan saudari seorang dengan yang lain, dan dipanggil menaruh perhatian satu sama lain. Kita memang berasal dari keluarga kecil tetapi kita semua dipanggil ke dalam keluarga besar anak-anak Allah. Bukankah kita mempunyai satu Bapa? Kalau kita satu Bapa berarti kita semua bersaudara. Kalau kita bersaudara berarti kita seharusnya mempunyai keprihatinan yang sama, kita seharusnya mempunyai kecemasan yang sama, kita seharusnya berbagi apa yang kita dapat.

Satu dari problem-problem yang kena dengan beberapa keluarga modern adalah bahwa mereka melihat masyarakat sekitarnya sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginan dan ambisi. Sesama manusia dipakai sebagai alat untuk memuaskan ambisi, memuaskan nafsu, sasaran kebencian, …

 

Offered to God

Akar dari sikap peduli yang demikian direkam dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, di mana diceritakan bahwa Yesus dipersembahkan dalam bait Allah. Yesus sebagai anak sulung yang lahir dari orang tuanya menurut tradisi Yahudi harus dipersembahkan secara khusus kepada Allah. Ini adalah sebuah keyakinan dan iman serta pengetahuan bahwa seluruh hidup adalah pemberian dari Allah karena Allah adalah pemilik dan sumber kehidupan dan hidup diserahkan kembali kepada Allah sebagai pemilik kehidupan. Anak ini adalah bagian dari Allah dan secara ritual dibeli kembali.

Tetapi Yesus adalah bukan seperti anak biasa. Ini nampak dari bagaimana kedatangan-Nya disambut oleh dua orang yang sungguh Kudus-Simeon dan Anna. Simeon, yang dipenuhi dengan roh Allah, dan yang kepadanya dijanjikan bahwa tidak akan mati sebelum melihat Mesias Raja Selamat yang lama dinantikan oleh bangsa Israel. Dengan kedalaman spiritual dia mengenal Allah dalam diri bayi yang dia pangku sambil berkata: “Sekarang, Tuhan, biarlah hambamu berpulang dalam damai…karena mataku telah melihat keselamatan yang telah dipersiapkan bagi semua bangsa untuk melihatnya, Cahaya yang menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi bangsa Israel.

 

A stumbling block

Yesus akan menjadi sumber hidup dan pembebasan bagi banyak orang tetapi juga menjadi sebuah batu penghalang yang fatal bagi mereka yang menolak jalan kebenaran dan cinta. “datanglah kamu semua yang diberkati oleh Bapaku, yang mengenal dan mencintai saya…” tetapi juga dikatakan “Enyahlah dari saya, yang menolak untuk mengenal dan mencintai saya…”

Dan bayangan salib nampak ketika dia memperingatkan Maria bahwa “sebuah pedang akan menembus jiwanya” Ini adalah bagian dari paket ketika Maria mengatakan “Aku ini  hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataanmu itu” kepada malaikat. Benarlah bahwa keluarga ini tidak terpisahkan dari berbagai problem, tetapi semua hal ini diterima oleh keluarga sebagai bagian dari misi keluarga untuk membawa cahaya dan hidup ke dunia.

Apa yang benar dari Yesus adalah juga kena pada kita. Kegembiraan, pemeliharaan atmosfer keluarga amatlah penting dalam proses pendidikan anak. Sikap orang berhadapan dengan dunia dan masyarakat sungguh dipengaruhi oleh pengalaman orang dalam keluarga khususnya pengalaman berhadapan dengan orang tua.

Problem adalah bahwa banyak orang tua mengharapkan tanggung jawab dan ketaatan dari anak tanpa secara aktual bertingkah laku dalam cara yang pantas untuk itu. Orang tua tidak dapat menentukan standar yang ganda yang dengannya mereka merasa  dihormati untuk melakukan apa yang anak-anak mereka dilarang untuk melakukan. Orang tua akan sulit memperoleh respek dari anak kalau mereka sendiri secara terus menerus berkelahi satu dengan yang lain, jika mereka juga terlalu sibuk untuk mencari uang, jika mereka berpikir bahwa perhatian dan kehadiran mereka bias digantikan dengan uang.

 

Kotbah Malam Natal

24 Desember 2012

 

Merayakan kesederhanaan

Saudara saudari yang terkasih, Malam ini kita merayakan hari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Kita merayakannya dengan penuh kegembiraan dan kebesaran. Untuk kegembiraan dan kebesaran Natal ini banyak waktu dan tenaga kita habiskan untuk mempersiapkan diri agar perayaan malam ini sungguh meriah, mengembirakan. Selain waktu dan tenaga juga banyak uang kita habiskan. Untuk sebagaian besar kita barangkali natal malam ini sudah menjadi perayaan natal yang kesekian, kendati Gereja katolik telah menetapkan bahwa kita merayakan Natal mulai tanggal 24 malam toh sudah banyak dari antara kita yang sudah merayakannya. Coba anda hitung sudah berapa banyak uang anda habiskan dalam rangka menyambut perayaan ini. Banyak di antara kita harus membeli baju baru. Dan barangkali tidak cukup satu pasang. Jika anak kita sekolah, maka akan ada permintaan guru untuk membeli baju Natal dengan warna dan bentuk yang sudah ditentukan. Natal di sekolah warna merah, natal sekolah minggu warna putih, natal di lingkungan warna putih, tapi panjang tangan. Demikian juga dengan celana, banyak yang membeli sepatu baru. Hitung sudah berapa kali kita harus bersalon atau membawa anak kita ke salon dan  berapa kali lagi. Hitung semua assessoris yang kita pakai, mulai dari menghias diri, rumah, gereja, jambur. Lain lagi biaya konsumsi, makan, snack. Biaya perjalanan, ongkos-ongkos. Maka tidak heran kalau hari raya natal tiba para ibu sudah menjadi pusing tujuh keliling memikirkan biaya untuk itu semua. Perusahaan jasa, took-toko, bank, menyediakan parcel natal. Pemerintah harus menganggarkan biaya natal yang demikian mahal. Tidak jarang juga biaya-biaya itu digelembungkan dan ditilap. Saya pernah diminta berkotbah dalam sebuah perayaan natal oekumene. Setelah selesai perayaan, seorang panitia bertanya kepada saya, jumlah honor kotbah yang ada dalam amplove. Dengan rasa enggan saya mengatakan, “aduh, untuk saya tidak penting jumlahnya” Tetapi bapak tersebut mendesak agar amplove saya buka dan menghitung uang yang ada di dalam. Setelah menghitung si bapak bergumam dan mengtakan: “tu lihat uang salam terimakasih untuk pastor juga ditilap” Dan ini terjadi pada perayaan natal.

Tidak hanya di tempat dan daerah kita ini saja. Di seluruh dunia bergema kemeriahan natal. Dikota-kota besar ada trend untuk membuat kembang api. Triliun uang habis dikonsumsi untuk membeli kembang api,. dan mercun.

Inikah perayaan natal? Barangkali kita semua akan setuju kalau natal bukanlah hura-hura dan pesta-pesta yang membuat kita menjadi konsumeris dengan menghabiskan banyak uang, energi, waktu, apalagi kesempatan untuk  melakukan hal-hal yang saya sebut diatas. Jika demikian apa itu natal. Natal sebenarnya adalah perayaan kelahiran pribadi yang rela meninggalkan kebesaran dan kemuliaan dan mau hidup dalam kesederhanaan. Inilah Yesus, Tuhan, yang datang ke dunia, meinggalkan kemuliaan dan pengosongan diri Allah, inkarnasi Allah, menjadi sama dengan manusia.

Injil hari ini secara sangat hati-hati menetapkan bunyi baik bagi gaya hidup personal dari Yesus maupun maksud kedatangan-Nya. Mari kita jangan jatuh kepada godaan romantisme yang mengitari. Gambaran di atas sungguh jauh dari apa yang dituliskan oleh Penginjil Lukas sebagaimana kita dengar pada malam ini. Ketika orang berpikir bahwa raja yang lahir itu berasa dari kalangan istana dan akan lahir di istana, maka Yesus lahir di kandang. Di Betlehem penuh dengan orang yang datang untuk melaksanakan perintah kaisar untuk sensus pendaftaran (ini untuk alasan pajak tentunya) tidak ada tempat menginap bagi Yusuf dan Maria. Akhirnya mereka menemukan kandang yang kosong, kotor dan tempat yang bau. Anak yang baru lahir ditempatkan pada palung, kotak tempat makanan domba, karena tidak ada satu keluarga pun yang menerima mereka untuk menginap di rumahnya.  Akibatnya banyak orang salah sangka dan akhirnya tidak pernah berjumpa bahkan tidak pernah mengakui bahwa Dia yang lahir di kandang hewan itu sungguh Mesias yang dinantikan. Tiga raja dari Timur pada awalnya menyangka bahwa raja yang akan lahir itu ada di istana, maka mereka mencarinya ke istana. Akhirnya melalui perubahan pikiran dengan tuntunan Roh dan malaikat mereka berjumpa dengan Yesus di kandang.

Orang-orang yang sungguh menyambut kelahirannya dan datang untuk mengunjungi raja yang baru lahir ini bukanlah pejabat pemerintahan, bukan para imam dan ahli Taurat yang ahli di bidang keagamaan, bukan pula yang mempunyai bisnis yang hebat. Orang pertama yang datang mengunjunginya adalah para gembala-gembala; status para gembala adalah tidak menentu, hidup tidak menentu, pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan merupakan kelompok yang termarginalisasi. Mereka ini dianggap sebagai orang luar, yang tidak masuk dalam kelompok sosial. Justru yang pertama mengunjungi Yesus adalah kelompok manusia yang terpinggir.

 Mengapa lahir dengan cara ini???Ketika orang menyangka bahwa Mesias  yang akan datang itu adalah raja yang berkuasa, punya pengaruh kuat dalam bidang politik dan ekonomi serta strategi yang ampuh, sehingga pergaulannya juga hanya dengan mereka yang berkecimpung dalam lingkaran bisnis dan politik, rupanya yang datang adalah  Dia yang bergaul dengan orang yang terpinggir, orang miskin yang tidak diperhatikan, orang sakit yang membutuhkan penyembuhan.

Ini adalah cara Lukas menempatkan status bagi hidup Yesus di masa yang akan datang. Lukas suka menekankan bahwa Yesus datang khususnya untuk mereka yang miskin dan mempunyai banyak kebutuhan, mereka yang lemah dan terpinggir.

Ketika orang mengharapkan Mesias yang datang adalah raja adil yang akan menghukum orang jahat dan mengganjari orang benar, rupanya raja yang datang itu bukan penghukum tetapi manusia yang penuh belas kasihan, murah hati dan pengampun. Kemudian dia akan dituduh makan dan minum bersama pendosa dan orang yang reputasinya jelek dan akhirnya dipinggirkan dan disamakan dengan para penjahat. Beberapa orang akan mengerti bahwa Yesus bergaul dengan orang miskin dan lemah, tetapi bergaul dengan orang yang reputasinya jelek di mata masyarakat sulit dimengerti oleh orang.

Sebenarnya, merayakan natal berarti mengenang Allah yang datang dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Dia mengosongkan diri, membuat dirinya miskin, melepaskan kekekalan dan kemuliaan, soilider dengan manusia berdosa. Allah menjadi manusia, Dia member diri demi keselamatan kita. Natal sebenarnya mengajari kita untuk hidup sederhana, mengajari kita untuk berani melepas apa yang kita miliki dan dibagikan kepada yang lain, mengajari kita untuk meninggalkan gengsi, kesombongan dan mengajari kita untuk bertindak rendah hati. Sungguh sangat kontras dengan kebiasaan yang terjadi di sekitar kita dimana natal menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk pamer, menunjukkan kebolehan dan apa yang mereka miliki. 

TAhun 1200an Fransikus dari Assisi,ketika orang merayakan natal dengan kegemerlapan yang mewah, meminta para saudaranya untuk mengimajinasikan tempat Yesus lahir dengan cara menyuruh mereka membuat kandang natal di tempat mereka merayakan natal. Maka para saudaranya membuat kandang. Fransiskus meminta mereka melihat apa saja yang ada di kandang itu. Ada hewan, jerami, tempat kotor yang aromanya bau… Dan di dalam kandan gitu ada bayi mungil Yesus yang adalah juruselamat. Ini terjadi di Greccio, italia. Peristiwa ini mengubah persepsi dan pikiran para saudaranya untuk memahami natal dan kelahiran Yesus. Kebiasaan membuat kandang natal menjadi tradisi di mana-mana. Sebenarnya Yesus bukan lahir di gua, tapi di kandang Betlehem. Kandang natal ini sebenarnya mengingatkan kita akan kesederhanaan Juruselamat yang lahir.

Saudara-saudari yang terkasih…Kandang natal jaman ini juga sudah menjadi amat mahal. Bagaimana kita bisa menghayati kesederhanaan dengan hiasan luks pada kandang natal kita? Sekali lagi kita diingatkan bahwa kita sedang merayakan kemiskinan dan kesederhanaan Allah yang datang meninggalkan kemuliaanNya. Tentu semua ini dilakukannNya demi keselamatan kita. Inilah yang kita rayakan dan hadirkan kembali dalam hidup kita.


Christmas Week Reflections

Frank Doyle SJ and P. Kornelius Sipayung


Readings:  Isaiah 9:1-6   Titus 2:11-14   Luke 2:1-14

Natal adalah pesta cahaya, kegembiraan dan pembebasan. Pada awalnya orang-orang Romawi merayakan sebuah pesta pada hari ini disebut sebagai Festum solis invicti, festival matahari yang tidak terkalahkan. Musim dingin sudah berlalu dan sekarang sedang datang hari yang panjang, dengan cahaya matahari akan lebih panjang… Seseorang dapat melihat alam berkembang setelah musim dingin yang membekukan. Pohon-pohon yang sebelumnya tampak mati karena daunnya berguguran dan tinggal ranting, kini mulai lagi bersemi dan menunjukkan tunas-tunas muda.


Joy everywhere….

Bacaan-bacaan bergaung  dengan tema cahaya dan bayi dalam palung adalah Cahaya Dunia. Cahaya mengitari gembala-gembala seraya dengan nyaring para malaikat melambungkan pujian mereka kepada Allah : “Kemuliaan kepada Allah di tempat yang Mahatinggi dan di bumi damai kepada semua orang yang berkenan kepada-Nya”


Keseluruhan atmosfer diliputi oleh kegembiraan, kegembiraan para malaikat, dan kegembiraan para gembala yang digambarkan dengan bergegasnya mereka ke Betlehem untuk menemukan anak yang baru lahir. Kegembiraan adalah tema yang amat kuat ditekankan oleh penginjil Lukas.

Alasan lain untuk bergembira  adalah pembebasan yang dibawa oleh Yesus. Hal ini ditunjukkan oleh cara  bagaimana dia datang. Dia adalah di atas segalanya Raja dari Raja, dan pangeran perdamaian. Di mana kemudian ada hiasan kemuliaan dan kekuatan? Di mana ada tempat, di mana ada orang istana, di mana pengawal yang terhormat? Dia datang tidak untuk menunjukkan kekuatan tetapi memberi kekuatan khususnya kepada yang miskin dan lemah.


Pengharapan mesianis bangsa Israel mendambakan kehadiran seorang Raja yang berkuasa, raja adil, raja pembebas. Nubuat para nabi menyalakan dan menguatkan pengharapan ini. Tentu saja pengertian adil, berkuasa dan pembebas ini bisa dimengerti dengan berbagai cara. Banyak orang Israel menantikan kehadiran Raja yang berkuasa dalam arti punya kekuatan yang luar bisa secara fisik, politik, ekonomi dan strategi memajukan bangsa.  Banyak orang yang berpikir adil sebagai tindakan menghukum orang yang bersalah dan memberi ganjaran bagi orang benar. Banyak orang mengerti istilah pembebas sebagai tindakan membebaskan diri penjajahan. Latar belakang pemikiran demikian sungguh kuat di kalangan bangsa Israel yang menantikan kedatangan Sang Mesias.

Injil hari ini secara sangat hati-hati menetapkan bunyi baik bagi gaya hidup personal dari Yesus maupun maksud kedatangan-Nya. Mari kita jangan jatuh kepada godaan romantisme yang mengitari. Gambaran di atas sungguh jauh dari apa yang dituliskan oleh Penginjil Lukas sebagaimana kita dengar pada malam ini. Ketika orang berpikir bahwa raja yang lahir itu berasa dari kalangan istana dan akan lahir di istana, maka Yesus lahir di kandang. Di Betlehem penuh dengan orang yang datang untuk melaksanakan perintah kaisar untuk sensus pendaftaran (ini untuk alasan pajak tentunya) tidak ada tempat menginap bagi Yusuf dan Maria. Akhirnya mereka menemukan kandang yang kosong, kotor dan tempat yang bau. Anak yang baru lahir ditempatkan pada palung, kotak tempat makanan domba, karena tidak ada satu keluarga pun yang menerima mereka untuk menginap di rumahnya.  Akibatnya banyak orang salah sangka dan akhirnya tidak pernah berjumpa bahkan tidak pernah mengakui bahwa Dia yang lahir di kandang hewan itu sungguh Mesias yang dinantikan. Tiga raja dari Timur pada awalnya menyangka bahwa raja yang akan lahir itu ada di istana, maka mereka mencarinya ke istana. Akhirnya melalui perubahan pikiran dengan tuntunan Roh dan malaikat mereka berjumpa dengan Yesus di kandang.


Orang-orang yang sungguh menyambut kelahirannya dan pergi datang untuk mengunjungi raja yang baru lahir ini bukanlah pejabat pemerintahan, bukan para imam dan ahli Taurat yang ahli di bidang keagamaan, bukan pula yang mempunyai bisnis yang hebat. Orang pertama yang datang mengunjunginya adalah para gembala-gembala; status para gembala adalah tidak menentu, hidup tidak menentu, pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan merupakan kelompok yang termarginalisasi. Mereka ini dianggap sebagai orang luar, yang tidak masuk dalam kelompok sosial. Justru yang pertama mengunjungi Yesus adalah kelompok manusia yang terpinggir.

Mengapa lahir dengan cara ini???Ketika orang menyangka bahwa Mesias  yang akan datang itu adalah raja yang berkuasa, punya pengaruh kuat dalam bidang politik dan ekonomi serta strategi yang ampuh, sehingga pergaulannya juga hanya dengan mereka yang berkecimpung dalam lingkaran bisnis dan politik, rupanya yang datang adalah  Dia yang bergaul dengan orang yang terpinggir, orang miskin yang tidak diperhatikan, orang sakit yang membutuhkan penyembuhan.

Ini adalah cara Lukas menempatkan status bagi hidup Yesus di masa yang akan datang. Lukas suka menekankan bahwa Yesus datang khususnya untuk mereka yang miskin dan mempunyai banyak kebutuhan, mereka yang lemah dan terpinggir.

Ketika orang mengharapkan Mesias yang datang adalah raja adil yang akan menghukum orang jahat dan mengganjari orang benar, rupanya raja yang datang itu bukan penghukum tetapi manusia yang penuh belas kasihan, murah hati dan pengampun. Kemudian dia akan dituduh makan dan minum bersama pendosa dan orang yang reputasinya jelek dan akhirnya dipinggirkan dan disamakan dengan para penjahat. Beberapa orang akan mengerti bahwa Yesus bergaul dengan orang miskin dan lemah, tetapi bergaul dengan orang yang reputasinya jelek di mata masyarakat sulit dimengerti oleh orang.

 

Jaman ini juga orang sering salah sangka. Orang sering mengira bahwa Natal itu adalah makan dan minum, hiburan berupa tari-tarian, sandiwara natal, lagu-lagu dengan mengundang bintang tamu, hiasan yang  megah, kado natal, dekorasi, pakaian baru.  Saya pernah menghadiri rapat Panitia Natal.  Begitu antusias para panitia untuk menyelenggarakan sebuah pesta yang meriah. Pembicaraan hanya sekitar seksi konsumsi, seksi hiburan, seksi tamu, seksi dekorasi, yang menghabiskan puluhan juga uang… Di tengah pembicaraan hangat ini saya memberi pendapat yang melawan arus. Setelah dana terkumpul…bagaimana kalau kita sumbangkan saja ke panti asuhan dan ke tempat rehabilitasi orang cacat sebagai tanda kepedulian kita kepada hidup mereka. Semua dengan kor yang nyaring menjawab “wah…nggak enak…pergilah sendiri ke sana”.  Di salah satu  kota daerah Milan saya pernah diundang untuk merayakan natal muda….

 

Raja yang kita harapkan adalah raja yang membebaskan. Banyak orang berpikir bahwa Dia adalah pembebas dari penjajahan, tekanan ekonomi, tekanan politik. Raja yang datang memang sungguh pembebas, tapi Dia ingin membebaskan manusia dari akar yang paling dalam, penyebab yang paling dalam dari kemiskinan dan kekerasan Mesias ini dengan seluruh hidupnya ingin membebaskan manusia dari egoisme, kepentingan diri, ketidakpedulian terhadap yang lemah. Inilah akar dari semua kemiskinan dan penindasan.

Mengapa Yesus menggabungkan diri dengan mereka yang reputasinya jelek?

 

Tetapi sebagaimana telah ditunjuk, bahwa Yesus mencintai orang miskin bukan karena mereka itu baik, tetapi karena mereka miskin. Dan kemiskinan material bukanlah jenis kemiskinan satu-satunya. Banyak juga kemiskinan dalam bidang moral, emosional, hati dingin, sosial psikologi.


Jika Yesus datang hari ini, bagaimana Dia datang? Seorang teolog mengatakan demikian: “jika Yesus datang kepada murid-murid-Nya hari ini dalam rupa apakah dia akan datang untuk membawa kasih dan keselamatan yang datang dari Allah??


Dalam rupa apakah dia datang etika orang muda meninggal karena AIDS, ketika jutaan manusia tanpa pekerjaan yang mengakibatkan kemiskinan dan pengangguran, dan kepantasan sosial, ketika anak-anak yang tidak berdaya dibunuh oleh orang tuanya sendiri dengan bentuk pengguguran, ketika orang dewasa menjadikan anak muda belai menjadi budak seks, jadi korban pelecehan seksual, ketika para perempuan dibuat menjadi nomor dua dengan jalan memperjualbelikan, ketika terjadi pembantaian etnis di berbagai belahan dunia seperti Afrika, Eropa, Asia, ketika, hutan, daerah tanah dirusaki? Dalam rupa apakah dia datang ketika

Di mana Yesus sang Juruselamat kita hari ini? Yesus adalah penyelamat kita, ketika kita yang diberkati dengan kebaikan bumi, materi yang baik, sosial dan intelektual bekerja secara bersama memperbaiki masyarakat kita untuk semakin utuh dan pantas.


Thomas Merton, seorang petapa dan penulis, mengekspresikan itu dengan cara ini: “Ke dalam dunia ini, tempat penginapan yang gila, yang secara absolut tidak ada ruang untuk-Nya, Kristus datang tanpa diundang. Tetapi karena Dia tidak dapat berada dalam itu, karena dia adalah di luar spasi dari ruangan itu, maka tempatnya adalah dengan mereka yang tidak mempunyai tempat”

 

Beberapa tahun yang lalu Paulo Friere, seorang Brazil, menulis bukunya yang terkenal Pedagogy of the Oppressed. Bukunya berisi tentang anjuran untuk mengentaskan mereka yang miskin pengetahuan terutama mereka yang buta huruf. Mengapa mereka miskin dan bagaimana mengatasi kemiskinan mereka dan solusi untuk mengatasi kemiskinan itu ada  pada tangan mereka.

Seluruh proses didasarkan pada mempelajari khabar gembira Injil dan melihat relevansinya dengan hidup mereka. Proses dilihat sebagai penyadaran, membuat mereka yang miskin dan terpinggir sadar akan situasi mereka yang terhimpit, sadar akan hak-hak, keadilan…

 

Anak yang baru lahir adalah pangeran perdamaian tetapi secara paradoksal warta-Nya tentang cinta dan keadilan bagi semua adalah sumber kekerasan dan kematian pada bagian mereka yang menolaknya. Gaung dari itu telah hadir dalam ceritra Natal.


Natal bukanlah hanya untuk malam ini saja, tetapi untuk seluruh tahun. Bukan hanya sekedar pesta, gembira, kebersamaan, perayaan, makan dan minum… Natal adalah perayaan datangnya Tuhan di antara orang miskin dan gelandangan, dan yang dirugikan, dengan sebuah berita harapan dan kebebasan bagi yang dirugikan di dunia ini. Maka natal bukan hanya perayaan tetapi juga tanggung jawab kita untuk ambil bagian dalam proses pembebasan itu. Untuk itu kita diminta untuk bekerja untuk menghapus noda kemiskinan yang memalukan, diskriminasi dan eksploitasi,



Mari kita bergembira atas hari natal yang kita rayakan tetapi jangan lupa akan apa persisnya yang kita rayakan. Biarlah itu semua merupakan rangsangan yang mengingatkan kita tentang makna natal bagi kita dan bagi masyarakat sekitar kita.


Christmas Week Reflections

Frank Doyle SJ and P. Kornelius Sipayung


CHRISTMAS MASS, DAYTIME (A, B, C)

 

Tadi malam kita merayakan kelahiran Tuhan kita Yesus kristus. Dia lahir dalam kesederhanaan, di kandang hewan  di kota Betlehem. Sebenarnya Dia ingin lahir, dan melalui orang tuanya mengetuk banyak rumah dikota betlehem. Tetapi semua penduduk Betlehem tiada satupun yang menerimaNya. Mereka tidak emnerima Yesus karena berbagai macam kepentingan. Penduduk Betlehem menolak Yesus dalam kandungan Maria. Inilah alasan mengapa Dia harus lahir di kandang.

Para malaikat mewartakan kelahiran ini bukan kepada penguasa politik seperti raja, bukan kepada pemimpin agama, bukan kepada para ahli kitab suci. Teapi Malaikat mewartakan ini  kepada para gembala. Para gembala adalah mereka yang tidak mempunyai tempat menetap, tidak banyak kepentingan, tidak banyak kritik, tetapi gampang digerakkan, karena mampunyai hati yang terbuka. Mari kita lihat keterbukaan hati mereka. Kaa-kata warta bala surge: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat dikota Daud Betlehem. Ini satu berita sukacita. Tetapi tanda yang diberikan oleh bala surge itu sungguh tidak menarik. Inlah tandanya: “Kamu akan menemui bayi berbaring di palungan di dalam kandang” Satu berita yang menarik dengan bukti yang kurang meyakinkan. Kendati demikian mereka, para gembala, pergi juga ke sana, karena yang menyampaikan berita itu adalah malaikat dari surga. Keterbukaan hati mereka membuat mereka berjumpa dengan Yesus.

Bacaan-bacaan hari ini mau mengetengahkan kepada kita siapa sebenarnya Yesus yang lahir ini. Penginjil Yohanes mengatakan bahwa Dia yang lahir di kandang itu adalah Putera Allah. Dialah Allah yang menjadi manusia.

 

Penginjil Yohanes memulai Injilnya dengan “pada mulanya”. Matius dalam memberi silsilah Yesus bergerak sampai ke Abraham, Bapak umat Allah. Silsilah Yesus dari Lukas bergerak kembali ke Adam dengan demikian merangkul seluruh manusia. Silsilah penginjil sinoptik mau mengatakan kepada bahwa pertama, Yesus yang lahir itu sungguh real, nyata, sungguh manusia sama dengan kita; kita semua adalah saudara dan saudari dalam Yesus. Penginjil Yohanes bukan hanya merunut silsilah sampai pada Abraham dan Adam, dia lewat permenungan yang mendalam sampai kepada awal dari segalanya yakni Allah sendiri. “pada mulanya”  bergema  pada kata pertama kitab kejadian tetapi Yohanes berbicara tentang sebuah peristiwa permulaan yang lebih awal, awal permulaan yang tidak mempunyai awal tetapi yang berasal dari kekekalan Allah sendiri. Pada mulanya adalah Sabda, Menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

 

The Word

Dari dahulu hingga sekarang Allah senantiasa mengomunikasikan diri kepada manusia. Allah mengomunikasikan diri lewat alam semesta, lewat ciptaan, lewat peristiwa hidup. Kemudian allah mengomunikasikan diri lewat pribadi manusia, seperti para tokoh karismatis, para raja, para nabi. Dan pada akhirnya Allah mengomunikasikan diri lewat Putra Tunggal-Nya. Yesus Kristus itu adalah komunikasi siri Allah. Sabda menjadi daging… Kita menggunakan kata untuk berkomunikasi. Dan ada banyak ragam jenis kata: superfisial, mendalam, konstruktif, destruktif, faktual, emosional, lucu, sedih, menguatkan, melemahkan cinta, pelecehan dan lain-lain. Kata dan sabda Allah adalah spesial. Kata Allah berdaya mencipta. Sabda Allah bukan hanya sekedar mengomunikasikan  ide dan gagasan. Sabda itu aktif, membawa hal kepada keberadaan. Segala sesuatu yang ada keluar dari Sabda Allah yang berdaya mencipta. Dan dalam cara yang khusus sabda membuat orang berada; sabda membuat hidup.

 

Sabda yang nyata juga mengomunikasikan siapa itu pemberinya. Komunikasi bukan hanya datang dari mulut tetapi juga dari seluruh tubuh. Saya bisa mengomunikasikan apa yang tersimpan dalam diri saya yang terdalam lewat seluruh tubuhku. Tubuhku dari ladang ekspresif dari hal yang tersembunyi dalam diriku.  Kita bias berkomunikasi lebih efektif lewat bahasa diam…lewat ekspresi wajah, sikap senyum, dll.

 

A revealing Word

Sadba Allah juga mewahyukan, mempresentasikan, menghadirkan sesuatu tentang diri Allah.  Kita dapat melihat itu pertama-tama dalam dunia sekitar kita, yang Dia ciptakan. “The world is charged with the grandeur of God,” (Seluruh dunia diliputi dengan kebesaran Allah) “Bulan dan bintang karya jari-Mu. Langit meninggalkan jejak Alah” sebagaimana dikatakan mazmur. Kita hidup dan bernafas dalam atmosfer ilahi kata Teilhard de Chardin. Tetapi hari ini kita merayakan Sabda Allah yang masuk secara total ke dalam dunia kita dalam cara yang sungguh khusus dan  menjadi sama seperti kita. Dia tidak hanya menjadi manusia sama seperti kita, Dia menjadi daging. Dia masuk dalam pengalaman natura kita yang rendah, ikut ambil bagian dalam kegembiraan dan ketakutan serta kecemasan kita, kelemahan dan ketidakpantasan kita “Tuhanku ya Tuhan-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku”

 

Sabda yang dapat dilihat dan dimengerti


Tetapi dalam menjelma menjadi daging, mengambil rupa sebagai manusia, menjadi daging, Sabda menjadi dapat dilihat, dan dimengerti oleh pikiran manusia yang terbatas. Dengan membatasi diri Allah bisa kita serap dan pikirkan. Allah yang tidak terbatas hanya mungkin diserap dan dimengerti oleh manusia yang terbatas. Jika Allah membatasi diri, membuat dirinya terbatas, membuat diri-Nya menjadi manusia. Dalam Yesus,  Sabda menjadi jembatan yang dapat menghubungkan, yang membuat terkoneksi antara pikiran kita yang terbatas dengan Allah yang adalah misteri dan tak terbatas.

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. (Yoh 1, 1-4)

Life and Light

Saudara dan saudari yang terkasih, Dua tema besar dalam Injil Yohanes adalah bahwa Sabda Allah dalam Yesus memberikan Hidup dan Terang. Kemudian, dia akan mengatakan: “Saya adalah kebangkitan dan Hidup. Dia membawa hidup dalam seluruh kepenuhannya. Tidak hanya hidup biologis tetapi seluruh dimensi kehidupan, hal ini persis seperti dikatakan psikoterapi Carl Rogers “fungsi penuh dari pribadi” Sebagaimana sering dikatakan bahwa kebanyakan dari kita hanya menggunakan atau hanya mampu mengaktualkan 10 %  dari potensi yang kita miliki. Sebagaimana Antony de Mello mengatakan banyak waktu kita hanya hidup setengah saja atau kadang keutamaan kita mati.

Sekali lagi Yesus mengatakan “saya adalah Cahaya dunia” tema pertentangan antara Cahaya dan kegelapan sungguh menonjol dalam Injil Yohanes. Yesus membawa Cahaya dalam kegelapan situasi manusia. Dia adalah Jalan; Truth-Integrity-Wholeness dan Dia adalah Hidup, hidup dalam kelimpahan, dalam semua kepenuhannya. Dia memberi visi bagi kita membuat jalan kita di dunia daging.

 

The world

Dan sekarang, sebagaimana dua ribu tahun lalu di Betlehem, Dia masih berada di dunia, di berbagai belahan dunia Dia tidak dikenal, di mana ada kekerasan, amarah, permusuhan dan di atas segalanya ketakutan. Sambil berkubang dalam kegelapan banyak orang yang tidak dapat melihatnya, banyak orang tidak menyediakan waktu untuk membagikan visinya. Dia datang kepada umat-Nya tetapi umat-Nya tidak menerimanya. Dia yang berada sejak semula dalam kekekalan, kini menjadikan diri-Nya terbatas agar manusia yang terbatas ini sanggup melihat kemuliaan-Nya. Tetapi apa yang terjadi? Banyak manusia tidak mempunyai kecakapan spiritual untuk melihat peristiwa ini. Orang yang percaya adalah mereka yang mempunyai kecakapan spiritual untuk melihat kehadiran Allah dalam peristiwa, dalam alam semesta dan terutama dalam diri Yesus yang menjelma menjadi manusia. Bagaimana dengan saya????? 

 

Those who belong to him

Hanya mereka yang sungguh percaya kemudian juga akan mau berserah kepada-Nya. Mereka yang sungguh percaya, mereka yang telah berserah dengannya dengan penyerahan yang dalam menjadi anak Allah. Dan sebagai anak yang benar, mereka berkembang lebih dan lebih sesuai dengan kehendak Allah. Menjadi anak Allah adalah identifikasi total dengan misi Sabda Allah.

 

“And the Word became flesh….. and lived among us.”

Sabda Allah, dalam Yesus, masuk secara total ke dalam kondisi manusia yang berdosa. Untuk ini kemudian orang Farisi mengatakan bahwa “Dia bergaul dan makan bersama orang berdosa” Orang Farisi adalah mereka yang sebenarnya tidak mempunyai kecakapan spiritual untuk melihat dan menerima kehadiran yang ilahi dalam diri Yesus Kristus. “mereka hanya melihat Yesus itu sebagai manusia biasa saja. Karena itu mereka mengatakan: “bukankah Dia ini anak Maria, Yusuf dan saudara serta saudarinya ada di antara kita???”

 

Merayakan Natal berarti menerima Yesus yang lahir itu sebagai Putra Allah, Allah yang menjadi manusia. Allah yang pada jaman dahulu bersabda lewat alam semesta, lewat peristiwa dan lewat pribadi pilihan kini bersabda lewat Anak-Nya sendiri yakni Yesus Kristus. Kini Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita.

Allah menyatakan diri-Nya bukan lewat hal luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Dia datang dengan cara dan gaya manusia.  Dari pihak manusia perlu kepekaan dan keutamaan spiritual untuk menangkap pesan ilahi. Allah tidak pernah berhenti mengomunikasikan diri kepada manusia. Jaman ini juga Dia tetap mengomunikasikan diri kepada kita lewat peristiwa hidup kita, lewat kejadian, lewat alam semesta dan terutama lewat pribadi manusia lain yang sungguh mengharapkan perhatian kita.

Shacsepare seorang filsuf dan sastrawan pernah menggambarkan kedatangan yesus ke dunia sebagai seorang pangeran yang menjadikan dirinya rakyat biasa. Pada jaman dahulu ada seorang Pangeran yang tinggal di Istana dengan hidup tidak berkekurangan. Dia hidup dalam kelimpahan. Istananya serba lengkap, segala-galanya terpenuhi. Tetapi si pangeran tidak puas dengan hidup melimpah, dia ingin berbagi dengan yang lain termasuk dengan rakyatnya di pedesaan. Tetapi sekat-sekat istana membatasi dirinya untuk dapat berkomunikasi dengan rakyat yang dicintainya. Maka dia menanggalkan atribut kepangeranannya dan mulai memakai pakaian dan perlengkapan manusia bisa. Dia lepaskan mahkota dan memakai topi petani, melepaskan tongkat kerayaan dan mulai memegang cangkul, melepaskan mantel kebesaran dan memakai kain sarung biasa. Kemudian dia meninggalkan kerjaan dan mulai mengembara ke desa-desa untuk berjumpa dengan rakyatnya yang biasa. Hanya dengan cara demikian dia bisa berjumpa secara langsung dengan rakyat dan mengenal serta dikenal oleh rakyatnya. Pangeran harus merendahkan diri, meninggalkan kebesaran dan kemuliaan untuk dapat berjumpa dengan rakyat. Demikian jugalah Putra Allah mengosongkan diri, merendahkan diri, menjadikan dirinya sama seperti manusia bisa agar manusia yang terbatas sanggup melihat dan mengenalnya.




Sunday Scripture Reflections


Frank Doyle SJ and P. Kornelius Sipayung


THE HOLY FAMILY Genesis 15:1-6;17:3b-5,15-16;21:1-7   Hebrews 11:8,11-12,17-19   Luke 2:22-40

Sudah menjadi kebiasaan orang katolik merayakan pesta Keluarga Kudus pada hari Minggu segera setelah  perayaan hari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Kesempatan memestakan Keluarga Kudus juga menjadi kesempatan bagi kita untuk becermin pada Kudus Nazaret. Selain ini dan yang paling penting bahwa Perayaan pesta Keluarga Kudus ini menjadi kesempatan yang tepat untuk merefleksikan kualitas dari keluarga kita sendiri dalam cahaya Gereja sebagai “Keluarga Utama”.

 

Untuk waktu yang lama Yesus adalah bagian dari satu keluarga, Dia tinggal dalam keluarga, diasuh dalam keluarga kecil Nazaret, tergantung dari keluarga, mendapat pendidikan dalam keluarga, merasakan suka-duka dalam keluarga. Kita sering

mengimajinasikan bahwa keluarga ini seharusnya telah menjadi sebuah keluarga yang cukup bahagia. Kendati demikian, sebagaimana pada umumnya keluarga-keluarga, Keluarga  Kudus Nazareth juga harus dari waktu ke waktu juga jatuh bangun, ada masa bahagia, masa sulit, ada masalah dan suka serta duka. Barangkali juga ada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada kalanya anggota keluarga sakit, cemas, takut, harus mengungsi, mengadakan perjalanan jauh, …

Selama masa hidup publik Yesus, Peranan Maria nampak sangat dominan di berbagai peristiwa hidup Yesus dan Maria turut menyaksikan sengsara, jalan salib bahkan kematian Yesus pada salib. Tetapi kita tidak ketahui kemudian tentang Yusuf. Adakah dia sudah meninggal segera setelah Yesus tampil di hadapan umum? Hal ini tidak terlalu menjadi minat para penulis Kitab Suci.

 

Leaving the family


Setelah Yesus berumur 30 tahun, Dia meninggalkan keluarganya untuk sebuah karya yang diberikan oleh Bapanya kepada-Nya untuk dilaksanakan. Dia mengemban misi melaksanakan karya keselamatan Allah di dunia.  Kita mengingat ketika Yesus berumur 12 tahun, bagaimana Maria dan Yusuf amat cemas ketika Dia tidak ikut serta dalam rombongan kembali ke Nazaret dan diceritakan bahwa Maria dan Yusuf tidak menemukannya dalam tiga hari. Ketika ditemukan dalam bait Allah dan berdiskusi dengan para tua-tua orang Yahudi, Dia mengatakan bahwa Dia harus tinggal di rumah Bapa-Nya. Dari waktu itu Dia menjadi bagian dari keluarga yang baru, keluarga dunia dan keluarga mereka yang komit mengikuti jalannya.  Ketika Dia sedang mengajar, diceritakan dalam Injil bahwa ibunya, saudara dan saudarinya mencari Dia, Yesus mengatakan bahwa ibunya, saudara dan saudarinya adalah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya. Ibunya, saudara-Nya dan saudari-Nya mulai saat itu akan menjadi murid-Nya karena murid-Nya adalah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan tekun melaksanakannya. Mereka tentunya akan, juga termasuk Maria ibu-Nya, yang tidak lebih baik dalam hal mendengar dan melaksanakan Sabda Allah dari Maria. 

Banyak orang kemudian meninggalkan lingkungan keluarganya. Ketika/kendati keluarga seharusnya menjadi prioritas utama dalam keprihatinan kita, hal itu tidaklah sebuah prioritas absolut. Semua kita, dan secara khusus orang Kristen, dipanggil mengikuti teladan Yesus dan menyekutukan diri kita dengan keluarga dunia. Karena, dengan satu Bapa, kita semua saudara dan saudari seorang dengan yang lain, dan dipanggil menaruh perhatian satu sama lain. Kita memang berasal dari keluarga kecil tetapi kita semua dipanggil ke dalam keluarga besar anak-anak Allah. Bukankah kita mempunyai satu Bapa? Kalau kita satu Bapa berarti kita semua bersaudara. Kalau kita bersaudara berarti kita seharusnya mempunyai keprihatinan yang sama, kita seharusnya mempunyai kecemasan yang sama, kita seharusnya berbagi apa yang kita dapat.

Satu dari problem-problem yang kena dengan beberapa keluarga modern adalah bahwa mereka melihat masyarakat sekitarnya sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginan dan ambisi. Sesama manusia dipakai sebagai alat untuk memuaskan ambisi, memuaskan nafsu, sasaran kebencian, …

 

Offered to God

Akar dari sikap peduli yang demikian direkam dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, di mana diceritakan bahwa Yesus dipersembahkan dalam bait Allah. Yesus sebagai anak sulung yang lahir dari orang tuanya menurut tradisi Yahudi harus dipersembahkan secara khusus kepada Allah. Ini adalah sebuah keyakinan dan iman serta pengetahuan bahwa seluruh hidup adalah pemberian dari Allah karena Allah adalah pemilik dan sumber kehidupan dan hidup diserahkan kembali kepada Allah sebagai pemilik kehidupan. Anak ini adalah bagian dari Allah dan secara ritual dibeli kembali.

Tetapi Yesus adalah bukan seperti anak biasa. Ini nampak dari bagaimana kedatangan-Nya disambut oleh dua orang yang sungguh Kudus-Simeon dan Anna. Simeon, yang dipenuhi dengan roh Allah, dan yang kepadanya dijanjikan bahwa tidak akan mati sebelum melihat Mesias Raja Selamat yang lama dinantikan oleh bangsa Israel. Dengan kedalaman spiritual dia mengenal Allah dalam diri bayi yang dia pangku sambil berkata: “Sekarang, Tuhan, biarlah hambamu berpulang dalam damai…karena mataku telah melihat keselamatan yang telah dipersiapkan bagi semua bangsa untuk melihatnya, Cahaya yang menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi bangsa Israel.

 

A stumbling block

Yesus akan menjadi sumber hidup dan pembebasan bagi banyak orang tetapi juga menjadi sebuah batu penghalang yang fatal bagi mereka yang menolak jalan kebenaran dan cinta. “datanglah kamu semua yang diberkati oleh Bapaku, yang mengenal dan mencintai saya…” tetapi juga dikatakan “Enyahlah dari saya, yang menolak untuk mengenal dan mencintai saya…”

Dan bayangan salib nampak ketika dia memperingatkan Maria bahwa “sebuah pedang akan menembus jiwanya” Ini adalah bagian dari paket ketika Maria mengatakan “Aku ini  hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataanmu itu” kepada malaikat. Benarlah bahwa keluarga ini tidak terpisahkan dari berbagai problem, tetapi semua hal ini diterima oleh keluarga sebagai bagian dari misi keluarga untuk membawa cahaya dan hidup ke dunia.

Apa yang benar dari Yesus adalah juga kena pada kita. Kegembiraan, pemeliharaan atmosfer keluarga amatlah penting dalam proses pendidikan anak. Sikap orang berhadapan dengan dunia dan masyarakat sungguh dipengaruhi oleh pengalaman orang dalam keluarga khususnya pengalaman berhadapan dengan orang tua.

Problem adalah bahwa banyak orang tua mengharapkan tanggung jawab dan ketaatan dari anak tanpa secara aktual bertingkah laku dalam cara yang pantas untuk itu. Orang tua tidak dapat menentukan standar yang ganda yang dengannya mereka merasa  dihormati untuk melakukan apa yang anak-anak mereka dilarang untuk melakukan. Orang tua akan sulit memperoleh respek dari anak kalau mereka sendiri secara terus menerus berkelahi satu dengan yang lain, jika mereka juga terlalu sibuk untuk mencari uang, jika mereka berpikir bahwa perhatian dan kehadiran mereka bias digantikan dengan uang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>